spot_img
HomeQuick BytesPemerintah AS Wacanakan Akuisisi 10% Saham Intel: Ini Latar Belakang dan Implikasinya

Pemerintah AS Wacanakan Akuisisi 10% Saham Intel: Ini Latar Belakang dan Implikasinya

Belum lama ini pemerintah Amerika Serikat (AS) mengonfirmasi bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump sedang mempertimbangkan kesepakatan strategis untuk mengakuisisi 10% saham Intel Corporation, salah satu raksasa teknologi di sektor semikonduktor.

Sebuah langkah yang dianggap dianggap kurang lazim bagi negara Adidaya tersebut. Pasalnya, secara tradisi ekonomi, pemerintah AS menganut kapitalisme pasar bebas yang artinya pemerintah biasanya tidak ikut campur langsung sebagai pemilik saham perusahaan swasta.

Wacana untuk mengambil alih, meskipun kecil, saham Intel tersebut mencerminkan upaya pemerintah AS untuk memperkuat posisi industri chip domestik di tengah persaingan global yang kian ketat, terutama dalam pengembangan chip kecerdasan buatan (AI). Kesepakatan ini juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi Intel dalam beberapa tahun terakhir, baik dari sisi keuangan maupun daya saing teknologi.

Latar Belakang Krisis Intel

Intel, yang selama beberapa dekade menjadi pemimpin industri semikonduktor, menghadapi tantangan berat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2024, perusahaan ini mencatatkan kerugian finansial sebesar 18,8 miliar dolar AS, kerugian pertama sejak tahun 1986.

Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor utama. Pertama, Intel kehilangan pangsa pasar di sektor komponen laptop dan server, yang sebelumnya menjadi tulang punggung pendapatannya, akibat persaingan ketat dengan Advanced Micro Devices (AMD).

Kedua, Intel gagal memanfaatkan peluang besar di pasar chip AI, di mana perusahaan seperti Nvidia, Samsung, dan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) telah mendominasi. Ketiga, upaya Intel untuk mengembangkan bisnis foundry (pabrik pembuatan chip untuk pihak ketiga) belum berhasil menarik pelanggan besar, meskipun telah menggelontorkan dana besar untuk ekspansi.

Kabar akan diakuisisinya 10 persen saham Intel sudah cukup medorong harga saham perusahaan semikonduktor asal AS tersebut meningkat.

Selain itu, Intel menghadapi kendala operasional yang signifikan. Perusahaan ini membatalkan rencana pembangunan pabrik di Jerman dan Polandia, serta memperlambat pengembangan fasilitas di Ohio, sebagai bagian dari strategi pengetatan anggaran. Saham Intel juga anjlok hingga 60% pada tahun 2024, menjadikannya tahun terburuk dalam sejarah perusahaan.

Situasi ini menjadi kompleks karena keputusan kontroversial Presiden Trump yang secara terbuka mendesak CEO Intel, Lip-Bu Tan, untuk mengundurkan diri karena dugaan hubungan dengan China, meskipun Tan menegaskan komitmennya terhadap keamanan nasional dan ekonomi AS dan tampaknya diamini oleh Trump.

Mengapa Pemerintah AS Turun Tangan?

Langkah pemerintah AS untuk mengakuisisi 10% saham Intel merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk memperkuat rantai pasok semikonduktor domestik dan mengurangi ketergantungan pada produsen asing, terutama dari Asia. Menurut Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, Presiden Trump ingin mengutamakan kebutuhan Amerika dari perspektif keamanan nasional dan ekonomi. Chip semikonduktor merupakan komponen kritis dalam berbagai aplikasi, mulai dari perangkat konsumen hingga sistem militer modern, sehingga kontrol atas produksi chip dianggap sebagai prioritas strategis.

Kesepakatan ini kemungkinan melibatkan konversi hibah federal senilai 10,86 miliar dolar AS, yang sebelumnya diberikan melalui CHIPS and Science Act, menjadi ekuitas di Intel. Jika terealisasi, pemerintah AS akan menjadi pemegang saham terbesar Intel, sebuah langkah yang belum pernah terjadi sejak intervensi pemerintah pada krisis keuangan 2008. Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, menyatakan bahwa kepemilikan saham ini dapat membantu Intel mendanai proyek-proyek besar, seperti pembangunan kompleks chip di Ohio yang sempat tertunda hingga 2030.

Langkah ini juga mencerminkan visi “America First” Trump, yang menekankan pentingnya membawa kembali manufaktur ke AS dan memperkuat lapangan kerja di sektor teknologi. Dengan mengambil saham di Intel, pemerintah berharap dapat mengendalikan arah strategis dan inovasi perusahaan, sekaligus memastikan bahwa Intel tetap kompetitif di pasar global yang didominasi oleh Nvidia, Samsung, dan TSMC.

Dukungan juga datang dari SoftBank

Selain dorongan kuat dari pemerintah AS yang melihat Intel sebagai aset strategis nasional, perusahaan ini juga mendapatkan suntikan besar dari pihak swasta global. SoftBank, melalui investasi sebesar US$ 2 miliar, resmi membeli saham Intel dengan harga USD 23 per lembar, yang menjadikannya pemegang saham kelima terbesar dengan porsi 2%. Langkah ini terbilang signifikan karena Intel sedang tertinggal dalam ledakan AI dan masih berjuang membangun bisnis foundry yang minim pelanggan besar. Dukungan dari konglomerat Jepang ini dipandang sebagai “vote of confidence” yang langka bagi Intel, sekaligus menunjukkan bahwa pemain besar masih melihat potensi jangka panjang di balik restrukturisasi dan ambisi perusahaan tersebut.

SoftBank bukanlah pemain baru di dunia industri semikonduktor. Setelah mengakuisisi ARM pada 2016 (kini bernilai hampir US$ 150 miliar), serta membeli Ampere Computing seharga US$ 6,5 miliar, SoftBank mempertegas posisinya sebagai investor strategis di pasar chip global.

Dengan rekam jejak tersebut, dukungan SoftBank terhadap Intel tidak hanya bersifat finansial, tapi juga membawa bobot reputasi dan kepercayaan di ekosistem semikonduktor. Kombinasi antara perlindungan pemerintah AS dan investasi strategis dari SoftBank memberi Intel napas segar untuk kembali bersaing dalam era AI dan manufaktur chip canggih.

Masih ada risiko yang mungkin terjadi

Meskipun potensial untuk membantu Intel, kesepakatan ini tidak luput dari tantangan. Pertama, akuisisi saham oleh pemerintah memerlukan persetujuan dari dewan direksi Intel dan dapat menghadapi resistensi dari pemegang saham atau pelaku industri lain yang mempertanyakan legitimasi intervensi pemerintah dalam perusahaan swasta. Kedua, langkah ini dapat memicu gejolak di pasar global, sebagaimana terlihat dari kenaikan saham Intel sebesar 7% setelah kabar ini muncul. Ketiga, masih belum jelas apakah pemerintah AS akan menerapkan pengaturan serupa untuk perusahaan lain yang menerima dana dari CHIPS and Science Act, seperti Nvidia atau AMD.

Selain itu, persaingan di pasar chip AI tetap menjadi tantangan besar bagi Intel. Nvidia, misalnya, telah meraup keuntungan besar dari pengembangan teknologi AI, dengan kapitalisasi pasar yang melampaui 4 triliun dolar AS pada tahun 2025. Sementara itu, TSMC dan Samsung terus memperluas dominasi mereka sebagai produsen chip kontrak terbesar di dunia. Untuk dapat bersaing, Intel perlu tidak hanya dukungan finansial, tetapi juga inovasi teknologi yang signifikan.

Kesepakatan potensial pemerintah AS untuk mengakuisisi 10% saham Intel merupakan langkah strategis yang bertujuan untuk memperkuat industri semikonduktor domestik di tengah persaingan global yang ketat. Krisis finansial dan operasional yang dihadapi Intel, ditambah dengan kebutuhan mendesak untuk menjaga keamanan nasional dan ketahanan ekonomi, menjadi pendorong utama langkah ini.

Namun, keberhasilan kesepakatan ini akan bergantung pada kemampuan Intel untuk berinovasi dan bersaing, serta bagaimana pemerintah AS menyeimbangkan intervensi di sektor swasta dengan dinamika pasar bebas. Dengan negosiasi yang masih berlangsung, dunia teknologi dan investor global akan terus memantau perkembangan ini.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments