spot_img
HomeQuick BytesRiset IBM: Hanya 11% Organisasi di Asia Pasifik Benar-Benar Siap Hadapi Industri...

Riset IBM: Hanya 11% Organisasi di Asia Pasifik Benar-Benar Siap Hadapi Industri 5.0

Studi terbaru IBM pada Agustus 2025 mengungkap paradoks besar dalam transformasi digital di Asia Pasifik: ambisi tinggi, namun kesiapan masih jauh dari cukup. Dari 135 perusahaan di sektor manufaktur, energi, dan utilitas yang disurvei, sebanyak 85% menilai diri mereka sudah “Data-Driven” atau bahkan “AI-First”, tetapi hasil objektif menunjukkan hanya 11% benar-benar siap.

Angka ini mengindikasikan adanya “self-perception gap” yang berbahaya. Para pemimpin bisnis berisiko menilai terlalu tinggi kematangan digital mereka, lalu mengabaikan hambatan mendasar yang justru bisa menggagalkan transformasi.

Berikut ini beberapa tantangan utama yang teridentifikasi:

  • Ketidaksesuaian strategi. Hanya 10% organisasi yang memiliki strategi Industri 4.0 yang terintegrasi. Mayoritas masih terjebak dalam rencana parsial atau uji coba terisolasi.
  • Kelemahan SDM. Hanya 26% yang menjalankan program pelatihan formal, dan hanya 16% merasa SDM mereka siap menghadapi transformasi AI.
  • Eksekusi terisolasi. Lebih dari dua pertiga organisasi masih menjalankan proyek AI pada level departemen tanpa mekanisme berbagi pengetahuan.
  • Modernisasi yang lambat. Adopsi predictive maintenance baru 40%, dan visibilitas rantai pasok real-time hanya 37%.
  • Integrasi AI terbatas. Mayoritas (63%) masih menaruh AI di proses-proses kecil, bukan sebagai fondasi strategis bisnis.

Kesenjangan ini jelas bukan sekadar masalah teknologi, tapi lebih pada kepemimpinan, strategi, dan kesiapan manusia di balik layar.

Menuju Industri 5.0: Dari Proof of Concept ke Skala Nyata

Meski kondisi saat ini masih jauh dari matang, jalan menuju Industri 5.0 tetap terbuka. IBM menekankan bahwa transformasi industri berikutnya bukan hanya soal teknologi, tapi juga fokus pada manusia, keberlanjutan, dan ketahanan. Sayangnya, indikator kesiapan ke arah itu masih lemah: hanya 23% yang melibatkan feedback pelanggan untuk strategi, dan hanya 28% yang berinvestasi pada pemantauan keberlanjutan real-time.

Namun, tidak semua cerita suram. Ada contoh positif dari kawasan ini yang menunjukkan bagaimana ambisi bisa diwujudkan:

  • Dongjin Semichem (Korea Selatan) menggunakan platform Gen AI lokal berbasis IBM watsonx.ai untuk mempercepat keputusan di R&D.
  • SMART Modular Technologies (Malaysia) mengandalkan IBM Maximo Visual Inspection untuk otomatisasi quality control.
  • Volkswagen FAW Engine (Cina) berhasil memangkas waktu tunggu hingga 40% lewat integrasi AI, 5G, dan robotika otonom.

Kasus-kasus tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan yang serius mengintegrasikan AI ke inti operasional mampu mencetak keunggulan nyata, bukan sekadar jargon.

IBM sendiri merekomendasikan lima langkah agar organisasi di Asia Pasifik tidak hanya bermimpi, tapi juga berlari lebih jauh:

  1. Selaraskan adopsi teknologi dengan hasil bisnis nyata – bukan sekadar adopsi demi tren.
  2. Perkuat platform inti lintas fungsi agar visibilitas data menyeluruh tercapai.
  3. Anggap data sebagai aset strategis, bukan sekadar laporan yang tersimpan di silo.
  4. Bangun fleksibilitas integrasi teknologi baru dengan pendekatan agile.
  5. Tanamkan nilai Industri 5.0 sejak sekarang: keberlanjutan, fokus manusia, dan ketahanan jangka panjang.

Roy Kosasih, Presiden Direktur IBM Indonesia, menegaskan bahwa yang akan unggul adalah mereka yang membangun fondasi digital aman, adaptif, dan memberdayakan manusia. AI hanyalah alat, ujung tombak tetap pada orang-orang yang berani mengubah ide besar menjadi aksi nyata.

Ambisi AI di Asia Pasifik memang sudah melampaui batas. Namun, tanpa kesiapan nyata, semua investasi yang digelontorkan berisiko tidak menghasilkan dampak berarti. Banyak organisasi terjebak dalam ilusi kesiapan, merasa sudah “AI-First” padahal masih berkutat pada uji coba parsial yang tak terintegrasi. Jika pola ini terus berlanjut, potensi besar yang dimiliki kawasan ini bisa hilang begitu saja, meninggalkan kesenjangan antara retorika dan realita.

Di sisi lain, masa depan Industri 5.0 sudah menunggu dengan tantangan yang lebih kompleks sekaligus peluang yang lebih besar. Pertanyaan yang muncul kini adalah: apakah para pemimpin bisnis berani berhenti sejenak, melakukan evaluasi jujur terhadap kondisi internal mereka, dan mulai membangun fondasi digital yang kokoh? Hanya dengan langkah itu, lompatan berikutnya bisa benar-benar terwujud, bukan sekadar wacana, melainkan transformasi nyata yang berkelanjutan.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments